08 Januari 2020 17:11:07
Ditulis oleh admin

Jegulo Mengukuhkan Diri Menjadi Kampung Wisata Religi

Desa Jegulo tengah bersungguh-sungguh (menseriusi) menjadi desa wisata religi. Hal itu dibuktikan bahwa pada Bulan Desember 2019 telah dilakukan serangkaian acara pengukuhan pengurus wisata religi sekaligus juru kuncinya. Mulai dari Makam Mbah Kico Meneng, Makan Tumenggung Sumedang Kawis di Sendang Gede, dan Makam Mbah Nanggul atau Syeikh Abdurrohman atau Pangeran Pringgoloyo di Dusun Dringu.

Dan bahwa penyebutan istilah "Wisata Religi" adalah memang mengacu tentang keberadaan makan yang dikeramatkan.Di mana secara turun temurun dipercaya sebagai makam tokoh besar yang sangat dihormati pada zamannya. Meski untuk makan Mbah Kico meneng dan Tumenggung Sumedang Kawis tergolong masih reverensi, masih banyak versi cerita, belum begitu jelas sebenarnya itu makan siapa. Karena lagi-lagi, minimnya bukti/peninggalan berupa catatan atau tulisan sebagai penguat.

Untuk Mbah Kico contoh, sebagian menyebut beliau adalah penyebar Agama Islam, atau tokoh babat alas di sana. sedangkan Tumenggung Sumedang Kawis di Sendang Gedhe lebih unik lagi. Banyak yang percaya (terlebih orang jauh) bahwa itu adalah makam tokoh besar, karena memang di sekitar sendang sering ditemukan peninggalan berupa uang koin, pusaka, atau yang lainnya, benda-benda yang menunjukkan di sana pernah ada sebuah kehidupan. Tapi sebagian besar penduduk di sekitar sendang bilang bahwa itu adalah makan seekor sapi, atau kuda.

Dan ada yang berpendapat kehidupan beragama warga saat itu masih Hindu-Budha. Hal itu diperkuat ada tanah yang menyerupai bukit, di sebelah pojok-selatan tikungan menuju Sendang, yang disinyalir dulunya itu merupakan tanah pemujaan. Entah mana yang benar.

Dan dari ketiga tempat itu, MBah Nanggul yang paling kuat dan siap untuk dikembangkan sebagai wisata religi. Bahwa setiap tahunnya rutin diadakan manganan (sedekat bumi) di sana, di mana penyelenggaraannya bisa dibilang unik dari pada yang lain. Rangkaiannya ada banyak, yang pelaksanaannya tak cukup hanya satu hari (dalam kesempatan lain akan kita bahas lebih khusus).

Tapi meski begitu bukan berarti untuk makan Mbah Kico Meneng atau Tumenggung Kawis tidak penting dan tak layak untuk diangkat menjadi kawasan wisata religi. Justru menjadi sangat penting sifatnya, karena dengan begitu diharapkan kita sebagai generasi penerus terdorong menguak segenap hal terkait akar dan asal-usul masa lau. Belajar untuk mencintai dan peduli dengan sejarahnya sendiri.

Dan juga dengan status itu (kampung wisata religi) setidaknya dengan sendirinya ada tuntutan untuk mejaga lingkungan di sana, sehingga secara tidak langsung ada sisi pelestariannya. Terkhusus dan lebih-lebih untuk Makam Sumedang Kawis di Sendang Gede, di mana di kawasan tersebut sudah dalam rancangan untuk dijadikan kawasan wisata berbasis konservasi.[]

* Foto & Tulisan: Rudik

 

  



Kategori

Bagikan :

comments powered by Disqus